Arsip untuk perjalanan rasa….

Untuk Sebuah Siluet…

Dicintai dengan mendalam oleh seseorang akan memberi kita kekuatan; Mencintai seseorang dg mendalam akan memberi kita keberanian  (Lao Tze)

Kemarin aku telah melepas kenangan dengan segala perasaan

Pagi ini aku  mulai mensketsa siluetmu dengan penuh keyakinan

Aku memutuskan untuk belajar untuk memberimu kekuatan

Lalu aku akan meletakkanmu dalam sebuah cawan kesetiaan

Menutupinya dengan sutra kasih sayang

Dan menjaganya dengan kerinduan yang mendalam

Terima Kasih atas segala pengertian dan penantian…

Komentar (1) »

Melepas Kenangan…

Beberapa hari terakhir ini aku mendapat banyak kisah. Setelah liburan perpisahan dengan sahabat-sahabatku yang akan pergi jauh, aku pun bertemu kembali dengan seseorang yang pernah kusebut ”cinta pertamaku”. Dia kebetulan sedang ada tugas di Surabaya dan dua hari itu kami habiskan untuk berkisah tentang apa saja setelah tiga tahun tak berjumpa. Dan terakhir ada teman yang mengenalkanku pada seseorang dengan sebuah “tujuan”.

Tahukah engkau, aku memang senang dengan semua kisah diatas. Aku senang ketika sahabatku memohon aku menunggu kepulangannya dia dua tahun lagi, lalu bayanganmu hadir dan itu lebih menyenangkan bagiku.

Aku senang ketika aku dan seseorang yang kusebut ”cinta pertamaku” itu bernostalgia tentang banyak hal, berkisah tentang pengalaman dia merebut Master di Europe, lalu bayanganmu hadir dan itu lebih menyenangkan bagiku.

Aku senang saat ada seseorang yang baru hadir, memulai lagi sebuah perkenalan basa-basi lalu mengalir cerita demi cerita. Ternyata kami memiliki banyak kesamaan dan secara logika dia sangat sesuai dengan harapan, lalu bayanganmu hadir dan itu lebih menyenangkan bagiku.

Awalnya aku takut menulis tentangmu karena aku takut engkau membacanya seperti pada tulisanku sebelumnya. Tapi sekarang aku tak peduli, aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri. Ini yang aku rasakan, dan aku tak menutupinya sedikit pun.

Aku salah jika membencimu, karena engkau telah memberikan banyak moment indah dalam hidupku. Aku masih ingat, saat pertama kali aku bertemu denganmu. Aku senang saat kau menjemput di rumahku, sangat suka dan tak kan terlupakan. Aku senang saat malam pergantian tahun bisa menghabiskan waktu denganmu meski hanya melalui keyboard dan monitor.  Aku senang bisa menuliskan perasaanku untuk kado ulang tahunmu. Aku senang engkau menemani hari-hariku selama beberapa waktu yang lalu. Aku senang bisa berbagi cerita apapun denganmu. Dan terakhir, aku senang bisa bertemu lagi denganmu, akhir april lalu. Meski seolah aku ingin melupakan moment itu, sejujurnya aku menikmati setiap detik perjumpaan terakhir denganmu. Aku masih sangat ingat betapa bahagianya diriku saat melihatmu turun dari travel di pagi buta itu. Bahagia yang tak terkira…

Aku ingin menganggap semua itu menjadi hal yang biasa. Aku menutupi semua moment indah itu dengan kisah-kisah yang membuatku meneteskan airmata. Aku terus mengingat bahwa aku bukanlah pilihanmu, dan aku harus sadar akan hal itu. Aku pun terus ingat bahwa engkau hampir saja tidak jadi menemuiku dengan alasan yang tidak bisa aku terima dengan akal sehat. Aku menangis saat teman kostku memperlihatkan fotomu bersama seorang gadis di hari wisudanya, juga foto lain dan comment-comment yang mendukung kedekatanmu dengan gadis itu.

Jiwaku berlari mencari makna ikhlas, berbagai buku tentang ilmu ikhlas aku beli. Berbagai kesibukan baru aku lakukan untuk melupakanmu. Dan ternyata kamu masih ada, tidak hilang sedikitpun. Ada sebuah pepatah mengatakan ”Lawan kata Cinta bukanlah Benci tetapi tidak peduli”. Sungguh aku tak mampu membencimu, tak akan pernah aku membenci seseorang yang telah melukiskan kenangan indah dalam hatiku. Pun aku tak akan mampu menjadi orang yang tidak peduli padamu. Aku akan selalu Peduli padamu, whatever will be…

Itulah jalan yang aku pilih

Aku tidak akan lagi menggunakan cara untuk membunuh perasaanku, aku tau waktu yang menyelesaikannya. Aku ingin menjalani semua apa adanya. Dan engkau pun tak perlu mencemaskan apapun. Aku tak akan mengharapkan apa-pun darimu ataupun dari yang lainnya. Semua harapanku telah aku titipkan pada-NYA.

Aku tak akan takut lagi menghadapi kenyataan yang ada. Aku tidak akan lagi menggunakan cara ABG dengan meremove-mu dari semua aplikasi internet maupun ponsel. Karena Tuhan tidak memberi tahu aku cara meremove-mu dari hidupku. Aku hanya ingin membebaskan hatiku yang selama ini tanpa aku sadari telah kuikat dan kupenjara dengan logika’ku.

Inilah cara yang aku pilih untuk menerima semua kemungkinan dan kesempatan yang Tuhan berikan untukku… Melepaskan kenangan bersamamu seperti ini, membuat perasaanku lega dan siap melanjutkan perjalanan hati dengan yang lain, meski butuh waktu untuk belajar.

Kebahagiaan akan bersama kita yang percaya akan Kebahagiaan itu sendiri. Terima kasih atas semuanya.

Komentar bertahan »

nasehat tentang jodoh…

Saat permasalahan itu bukan menjadi fokus utamaku, kok malah dapet nasehat tentang “masalah” itu. Tapi emang nasehat yang sungguh pas dihati dan yang layak untuk dicatat biar ga lupa…

Seandainya saja kita tahu rahasia Allah dibalik sebuah kegagalan/penundaan, sudah pasti kita akan sangat berharap beberapa fase atau kejadian dalam hidup kita mengalami kegagalan/penundaan, terutama pada hal-hal yang sekarang ini mengecewakan.

Tidak semua keberhasilan dalam hidup atau mungkin terkabulnya sebuah do’a berakibat baik bagi kehidupan akhirat kita. Sudah banyak contoh orang yang mendapatkan apa yang dia inginkan justru malah membuat mereka jatuh kedalam rasa penyesalan di kemudian hari.

Harus pula diingat bahwa kegagalan juga buah dari do’a kita. Kalau kita berdo’a kepada Allah, meminta kebaikan-kebaikan dalam hidup didunia dan hidup bahagia di akhirat, tentu saja Allah akan mengarahkan hidup kita kesana. Hal-hal yang bisa menyebabkan kita mengalami kesulitan dalam hidup dan menjerumuskan kita kedalam neraka akan dijauhkan oleh Allah dari hidup kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).

Jadi, Tetaplah berprasangka baik dan ridha terhadap takdir yang telah ditentukan Allah. Sabar saja dalam berikhtiar menjemput jodoh, sebab bersikap tidak sabarpun hanya menghabiskan energi saja, soalnya dapatnya ya sama saja waktunya dengan kalau kita sabar.

Dengan berlaku sabar kita bisa dapat jodoh dan pahala sekaligus.

Komentar (1) »

Cinta….

Cinta adalah ketika kamu menitikkan airmata, tetapi masih peduli terhadapnya

Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, dan kamu masih menunggunya dengan setia

Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata, “aku turut berbahagia untukmu

Cinta itu….. (masih) “Kamu”

Komentar bertahan »

Pintaku Pagi ini…

Ya Robb,

Cinta kasih yang Engkau limpahkan pada hamba sungguh luar biasa

Tak kusesali sedikitpun perjalan hidupku yang telah Engkau tulis indah

Namun aku mohon dengan sangat Ya Robb Yang Maha Tak Terhingga

Kali ini jangan beri aku cinta lagi

Kecuali cinta kepada Kekasih Hati yang telah Engkau Pilihkan

untuk mendampingiku selama di dunia-Mu dan akhirat-Mu

Aku hanya minta sekali saja, hanya sekali lagi saja…

Jika memang dia yang Engkau pilih untukku

Berikan rasa itu pada hatiku dan aku akan menunggu

Namun bila ternyata bukan, aku mohon…

Bebaskan hati kami dari semua rasa yang hanya akan merusak yang telah ada

dan biarkan semua seperti biasanya

Dan kini biarkan hatiku terbang bebas

Hingga saat yang tepat itu…

Aku akan setia menanti janji-Mu

dan aku hanya meminta sekali saja

Komentar bertahan »

Perempuan itu Aku

Aku perempuan itu…

Yang selalu mencoba untuk tersenyum pada siapapun,

agar semua tahu akulah orang yang selalu bahagia

Yang berusaha nampak tegar dan mampu mengatasi segalanya…

Agar semua tahu akulah orang yang kuat

Dan aku tahu itulah kesombongan…yang tak aku sadari sebelumnya

Lalu engkau hadir,

Dengan wujud yang berbeda,

Yang tidak mewakili siapapun dari masa laluku

Memberikan warna baru dalam hidupku

Menawarkan keceriaan dan kenyamanan

Hingga tak cukup lama setelah itu

Sedikit demi sedikit partikel-partikel aneh masuk ke area terdalamku

Menciptakan sebuah energi pengharapan yang indah jika dirasakan

Dan meski aku tak suka berada dalam kondisi itu

Tapi aku tetap menikmatinya

Sebuah memoar perjalanan hati dengan seseorang yang baru aku kenal

Telah menghancurkan ketakutan-ketakutanku akan sesuatu yang belum terjadi

Sampai pada suatu waktu,

Pilihan itu pun engkau ambil

Pilihan untuk tidak memilih

Meskipun aku tahu semua akan berakhir

Namun aku tetap kecewa…

Kekecewaan itu aku wujudkan dengan membunuh energi rasa yang ada

Menahan kuat agar airmata tak keluar

Namun semua tak berhasil…

Justru yang muncul adalah kekuatiran orang-orang disekitarku melihat perubahanku

Lalu aku menangis,

Dan mencoba merasakan sedih itu hingga titik yang paling dalam

Setelah itu aku tahu bahwa aku bukan kecewa karenanya…

Aku tak punya hak atas keputusan yang dia pilih

Dan aku sangat menghargai itu

Aku hanya kecewa pada diriku sendiri

Kecewa karena aku memelihara sebuah energi rasa

Lalu menciptakan pengharapan darinya

Dan disaat aku sudah mengikhlaskan semua

Serta siap menempatkannya sebagai seorang teman baik di hidupku

Tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi selama ini

Sebuah permainan dibalik kepercayaan yang kuberikan kepadanya

Aku merasa dia bermain sandiwara dihadapanku

Sebuah sinetron picisan…

Dan dia menjadikanku sebagai tokoh figuran

Tanpa aku tahu skenario yang dia buat

Tuhanku, ini jauh lebih menyedihkan…

Semua yang terlewati bersamanya,

Yang ingin kusimpan sebagai kenangan terindah sirna sudah

Apakah benar semua yang telah terjadi hanyalah sandiwara

Semua yang pernah dia ungkapkan hanyalah kepalsuan

Kepada siapa aku harus bertanya dan percaya ?

Atau mungkin ini cara-MU untuk memaksaku meyakini semua

Dialah yang telah menghapus semua ketakutanku

Lalu memunculkannya lagi dengan porsi yang lebih besar

Namun jika semua sandiwara ini membuatnya bahagia

Aku akan ikut bahagia…

Komentar bertahan »

Dia yang mengubah paradigmaku….

Atas desakan sang Pujangga Syurga, Milis perjodohan itu segera aku alihkan kepada seorang teman yang juga berikhtiar untuk mencari pasangan hidup. Dan memang aku merasa sudah tidak membutuhkan lagi.

Disaat aku sudah merasa tertekan oleh sikap Pujangga Syurga yang terlalu mengatur dan possesif. Aku menghibur diri dengan chatting melalui YM. Dan bertemulah aku dengan seseorang yang dulu pernah menyapaku melalui milis Perjodohan yang sama.

Seseorang yang sama sekali tidak aku kenal, bahkan tidak bisa aku bayangkan. Dia bekerja di luar negeri selama bertahun-tahun lamanya. Dan telah memutuskan untuk menetap disana entah sampai kapan. Hal itulah yang membuat aku mundur dari perkenalanku dengannya di awal dulu.

Namun disaat aku sudah tidak lagi berorientasi mencari pasangan hidup dan mulai menambah pertemanan dengan siapa saja, aku mulai merasakan ada sesuatu yang menyenangkan darinya. Sesuatu yang tidak aku temukan dari yang lainnya.

Aku menganggapnya sebagai seorang teman yang manis, menyenangkan dan unik. Tiba-tiba saja muncul sebuah kedekatan diantara kami. Hingga aku pun ingin menjadi mak comblang antara dirinya dan teman serumahku. Meski kemudian aku juga yang merasa bahwa mereka tidak akan cocok.

Sesaat setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Pujangga Syurga. Aku semakin dekat dengannya. Harus kuakui bahwa dialah yang membuat aku mampu dengan segera melupakan kesedihanku.

Tanpa sadar Kami pun pada akhirnya memiliki jadwal khusus setiap hari. Menceritakan tentang segala hal, bercerita tentang kegiatan hari ini, kejadian-kejadian lucu, menyenangkan hingga hal-hal yang menyedihkan.

Rasa itu muncul begitu saja diawal bulan Februari. Sesuatu yang selama ini aku takutkan tidak pernah muncul kembali. Yang ada hanyalah perasaan senang dan nyaman saat harus menghabiskan waktu bersamanya. Aku tidak merasa tertekan dan juga tak pernah merasa ingin mengubahnya. Aku hanya senang bersamanya.

Aku merasa kami sudah memiliki perasaan yang sama. Dan itu sudah cukup membuatku bahagia. Meskipun kenyataannya dia mempunyai sebuah permasalahan yang membuat kami tidak mungkin bersatu.

Yah….aku tahu kami tidak mungkin bersatu dan aku tak peduli akan hal itu. Aku menyayanginya tanpa syarat. Aku hanya mengharapkan kebahagiaan baginya. Meski memang jika harus jujur pasti aku kecewa. Tapi keinginan untuk melihatnya bahagia lebih kuat aku rasakan. Dan itu kusampaikan dihari ulang tahunnya.

Dulu,

sempat aku tak menyadari keberadaannya

menganggapnya seolah burung yang hinggap di dahan tuk sekedar beristirahat sebelum melanjutkan terbang

Dan entah sejak kapan.

Dia menemani sebagian waktuku…

Berjumpa dalam canda

Berkisah kesedihan

Bercerita tentang dunia

Berbicara masa depan

Saling berbagi doa dan harapan

Dia dengan kesederhanaannya dan aku dengan ketakutanku

Dia dengan kedewasaannya dan aku dengan keegoisanku

Dia dengan ketenangannya dan aku dengan ketidaksabaranku

Dia dengan kasih yang terpancar dan aku dengan hati yang terpendam

Ingin rasanya kembali ke masa itu,

Sebelum aku membuatnya marah, terluka atau bersedih

Dan tak kan kulakukan kebodohan dengan sikap semauku

Jika saja aku bisa menghapus semua kecewa yang ada di hatinya

Karena kini ku sadar bahwa dialah…

Teman yang sangat bisa dipercaya

Sahabat yang begitu kuhargai

Kakak yang bisa dihandalkan

Dan dialah Seseorang yang berarti bagiku…

Hari ini,

Sungguh aku mohon padaMU, Ya Allah….

Pertemukan dia dengan kebahagiaan sejati,

Kebahagiaan yang tak kan lekang oleh waktu

Kebahagiaan yang memberinya ketenangan

Kebahagiaan yang akan menghapus semua luka dimasa lalunya

Kebahagiaan yang akan menemani dimana pun dia berada

Kebahagiaan selamanya, dunia dan akherat….

(untuknya, 14 Februari 2009)

Diakhir maret, semua terjawab sudah. Saat dia memilih untuk tidak memilih siapapun termasuk diriku. Dan aku sudah mempersiapkan diri akan hal itu. Sedih? Tentu… untuknya air mata ini kupersembahkan. Bukan untuk membencinya tetapi untuk merelakannya menemukan kebahagiaan yang sejati. Aku tahu ini adalah jawaban Tuhan atas hubungan kami.

Aku tetap yakin bahwa dia adalah orang baik dan aku masih sangat mepercayainya, menghormatinya dan menyayanginya dalam bentuk yang berbeda tentu saja. Sebagai seseorang yang telah pernah mengisi kebahagiaanku.

Hingga di bulan April saat dia pulang ke tanah kelahirannya lalu berjanji akan mengunjungiku di Surabaya sebagai seorang teman tetapi kemudian dia gagalkan. Seketika itu aku kecewa… kekecewaan yang jauh lebih besar dibanding ketika dia menyampaikan bahwa dia tidak memilihku.

Seandainya saja dia tahu upayaku untuk menetralisir perasaanku, seandainya saja dia tahu berapa banyak airmata yang aku keluarkan untuknya, seandainya dia tahu aku telah mengorbankan banyak pendirian dan memberinya banyak pengertian. Aahhh… seandainya saja dia tahu betapa berantakan hidupku karena harus menghapus rasa yang ada untuknya…

Aku sudah melakukan semua itu. Dan aku sama sekali tak mau menyalahkan dia. Semua rasa yang kumiliki adalah kesalahanku. Dan aku pun tak berhak menuntut apapun darinya. Maka aku memutuskan untuk menghilangkannya dari sejarah kehidupanku. Namun aku amsih sedikit mengharapkan semua ini dapat diakhiri dengan indah, dengan pertemuan mesti hanya untuk yang terakhir kali.

Sedikit asaku akhirnya terjawab. Dia akhirnya bersedia menemuiku meski hanya sejenak. Sangat sebentar dibanding dengan kedekatan yang kita jalin selama ini. Tetapi aku sungguh bahagia bisa bertemu dengannya. Sesaat untuk terakhir kalinya aku melepaskan rasa. Membiarkan hatiku sedikit melayang, melepaskan logika untuk sementara. Dan rasa kepercayaanku padanya kembali tumbuh. Aku berdoa untuknya.

Namun aku tahu ada yang tidak beres. Dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu itu. Semua semakin diperkuat oleh pertanyaan-pertanyaan orang terdekatku yang juga telah aku kenalkan padanya.

Akhirnya aku menyerah… Aku terpaksa harus percaya bahwa aku  tak berarti baginya.

Komentar bertahan »

Sesaat bersama Pujangga Syurga


Setelah itu semua berjalan seperti biasa, butuh penyesuaian memang untuk bisa menemukan diriku yang sebenar-benarnya tanpa seorang Akhi. Dan nyata nya aku bisa karena aku masih memiliki banyak sahabat sejati yang lainnya.

Waktu berlalu meninggalkanku dari zona nyaman sebagai seorang mahasiswa menjadi seorang yang mengajar mahasiswa. Kesibukanku bergelut dengan dunia baru membuatku terlupa akan janjiku pada Bunda untuk segera memberikannya seorang mantu. Tepat diawal tahun 2008 menjelang usiaku yang ke 25 tahun aku tersadar. Sepertinya sekaranglah waktu yang tepat untuk aku mencari pendamping hidup.

Aku ingin serius dalam hal ini. Aku merasa perjuanganku untuk menjaga diriku seorang diri akan segera berakhir dan aku akan mempertahankan caraku hingga aku bertemu dengan kekasih hati yang sejati.

Aku pun memilih untuk mengikuti sebuah milis perjodohan. Aku memutuskan untuk memisahkan urusan pertemanan dengan perjodohan. Tak banyak yang tahu aku mengikuti milis tersebut. Hal itu memang aku sengaja agar aku bisa berkonsentrasi untuk menemukan jodohku.

Bismillah….

Satu demi satu anggota milis menyapaku, kemudian beberapa diantara mereka mengajak berkenalan lebih dekat. Aku pun berusaha untuk senetral dan serasio mungkin dalam proses perkenalan ini.

Datang lalu pergi… begitu seterusnya dan aku menulis semuanya dalam buku harian. Sekitar 21 orang sebelum pada akhirnya aku menyerah berharap pada milis tersebut. Terlalu banyak kendala sepertinya, mulai dari usia, pekerjaan, jarak yang terlalu jauh, perbedaan pandangan dan masih banyak lagi.

Seorang teman mengatakan bahwa aku lah yang terlalu pemilih. Aku terlalu melihat seseorang dari kezahirannya, bagaimana tingkat pendidikannya, bagaimana pekerjaannya, bagaimana masa lalunya, bagaimana seterusnya…

Aku merasa tersindir dengan pernyataan temanku tersebut dan aku ingin membuktikan padanya dan pada semuanya bahwa aku bukanlah orang seperti itu. Aku hanya ingin seorang lelaki yang bisa menjadi imam yang bertanggungjawab bagi keluarganya. Seorang yang bisa mengantarkanku ke Syurga-NYA kelak.

Ditengah keputusasaanku itu, disuatu sore aku menerima pesan di YM chat dari seseorang yang kemudian kusebut Pujangga Syurga. Bahasanya begitu santun dan memikat. Aku pun meresponnya.

Dari sanalah cerita tersebut bergulir. Melalui untaian-untaian kata yang melenakan hingga mengingatkanku pada Cinta Pertamaku. Bahasanya yang santun hingga membuatku seolah berhadapan kembali dengan Akhi, sahabat sejatiku.

Oh… Apakah benar Pujangga Syurga ini yang Engkau berikan kepadaku untuk menggantikan kedua hatiku yang telah berlalu Tuhan… Kira-kira seperti itu pertanyaanku disetiap sujudku

Aku pun terlena hingga suatu hari aku mengetahui latar belakangnya yang jauh dari harapanku. Tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan yang berada dibawahku. Semua itu sempat membuatku memutuskan untuk mundur. Namun itu tidak kulakukan karena aku teringat oleh perkataan temanku… Mungkin ini saatnya aku harus membuktikan pada semua bahwa aku bisa menerima seseorang yang secara wujud seolah berada dibawahku.

Aku pun menjalani hari-hari bersamanya meski hanya melalui lintas suara dan kata karena jarak yang memisahkan kita. Aku mengaguminya karena perjuangan hidupnya yang luar biasa berat. Aku megagumi semangatnya dan rasa percaya dirinya yang kuat. Pengetahuannya tentang agama pun menjadi nilai lebih yang luar biasa.

Sejenak aku yakin bahwa inilah jodoh yang Tuhan berikan untukku. Aku sudah kenyang menerima kebahagiaan dari keluarga dan teman-temanku. Sekarang saatnya aku membahagiakan seseorang yang seumur hidupnya penuh perjuangan seperti sang Pujangga Syurga ini.

Dua bulan berjalan masa kedekatan kami, semua penuh kata-kata manis nan indah. Hingga aku mulai merasa ada yang berubah dalam hidupku. Aku merasa terlalu sering diatur, terlalu sering dicurigai dan yang pasti terlalu sering begadang menuruti keinginannya untuk bertelpon ria.

Teman-teman kostku mulai komplain karena melihat lingkaran hitam disekitar mataku yang mulai meluas. Berat badanku turun beberapa kilo tanpa diet. Hari-hari kerjaku penuh dengan ketergesa-gesaan karena ingin segera bercengkrama dengannya melalui telpun. Sementara itu restu dari Bunda belum juga aku dapatkan. Aku masih bertahan dan terus bertahan. Sementara dia semakin possesif dan menekan.

Hingga sampai saatnya kami bertemu. Mulanya semua berjalan dengan baik. Aku mengajaknya keliling kota, memperlihatkan keluargaku melalui foto-foto. Berbicara tentang rencana kedepannya. Keinginannya untuk melanjutkan kuliah dan pindah kerja yang lebih layak. Aku Sangat mendukung semua rencananya dengan semangat.

Lalu dia bertanya, “Bolehkah saya mencium tanganmu?” aku terhenyak… ternyata dia bukanlah pengganti Akhi seperti yang aku bayangkan. Bukan pula sosok yang menyerupai Cinta Pertamaku.

Aku tahu itu hal biasa bagi sebagian orang bahkan sangat wajar mungkin. Tapi itu tidak berlaku buat aku. Aku telah menjaga diriku selama 25 tahun lebih tanpa bersentuhan dengan lawan jenis bukan muhrim (kecuali sekedar berjabat tangan). Dan aku ingin tetap menjaga semua itu hanya untuk suamiku kelak. Titik

Dan aku meninggalkannya dalam diam. Hingga dia pulang kembali ke tempat asalnya. Lalu aku memutuskan untuk menyerahkan semua urusanku pada Tuhanku. Kupasrahkan semua rasa yang aku miliki pada-NYA. Dan keputusanku sudah bulat. Aku harus mengakhiri hubungan ini. Meneteslah air mata itu beserta sirnanya rasa yang ada di hati.

Komentar bertahan »

Sahabat Sejatiku Seorang Ikhwan


Jika kisah pertamaku hanya berumur beberapa bulan. Maka inilah kisah terpanjang yang aku miliki sampai saat ini.

Berawal dari tahun 2002, setahun setelah aku menjadi mahasiswa di sebuah PTN di Surabaya. Aku mengenal dia sebagai si pendiam yang murah senyum. Dia adalah kakak kelas satu anggatan diatasku dan salah satu teman seangkatannya (yang juga salah satu teman akrabku) naksir berat dengan dia. Setiap hari tema cerita teman akrabku ini tidak pernah jauh dari si akhi (akhi adalah sebutan untuk lelaki remaja masjid kampus yang pada akhirnya menjadi panggilan akrabku ke dia).

Teman akrabku sering meminta bantuanku untuk menyampaikan salam ke si akhi tersebut, hingga terjalinlah sebuah hubungan pertemanan antara aku dan si pendiam murah senyum itu.

Dia orang yang baik dan sangat alim. Hingga saat ini pun aku tak pernah bersentuhan dengannya meski hanya sekedar berjabat tangan. Dia sangat menjaga pandangan dengan perempuan. Setiap kali berbincang-bincang dengan lawan jenisnya dia selalu menunduk. Senyum pun tak pernah lepas dari bibirnya. Tenang pembawaannya, manis setiap perkataannya, sejuk rasanya jika berada di dekatnya.

Setiap hari dia selalu membawa Al Qur’an kecil dan membacanya disaat senggang. Melalui SMS dia selalu mengingatkanku tentang kebaikan, tentang waktu sholat, memberiku semangat untuk menjadi lebih baik lagi.

Dan hubungan kami menjadi sangat baik. Dia memberikan banyak ilmu padaku tanpa sedikitpun mengguruiku. Dia sangat memahamiku. Dan dia pun masih mau berteman denganku meski pada saat itu aku masihlah seorang gadis tomboi semaunya sendiri dan belum berjilbab.

Tahun demi tahun kami lalui bersama. Bahkan saat Cinta pertamaku hadir. Akhi tetap berada disampingku. Mengingatkanku agar tetap pada jalur yang benar tetapi juga tidak berusaha mengganggu privasiku.

Dia ada saat aku sedih dan memotivasiku untuk bangkit kembali. Dia pun selalu hadir saat aku bahagia untuk ikut berbahagia. Dia lelaki pertama yang aku kenalkan kepada Bapak dan Bunda. Dengan adik-adiknya pun aku kenal.

Suatu hari dia pernah aku minta datang ke kostku hanya karena aku BeTe, dan dia menyanggupinya meski harus berjalan kaki dari rumahnya karena motornya sedang dipinjam. Dia pula yang selalu aku repoti kalau komputer atau printerku rusak. Dia yang selalu ada disaat apapun aku butuhkan.

Aku tak pernah peduli meski sebagian besar teman-temanku mempertanyakan tentang hubungan kami. Begitu juga dengan dia yang banyak mendapat protes dari teman-teman majelisnya karena dianggap terlalu akrab dengan lawan jenis.

Hingga menjelang kelulusanku ditahun akhir tahun 2005 aku mulai merasa bahwa hubungan ini terlalu istimewa jika disebut sebagai sebuah hubungan persahabatan. Mengapa diakhir masa remajaku aku masih tenang-tenang saja tidak terlalu terhanyut oleh kegiatan pacaran misalnya. Ternyata semua itu tidak aku butuhkan karena hati dan hari-hariku telah terisi oleh seseorang yang notabenenya adalah sahabatku sendiri.

Dari situ aku mulai gusar dan mempertanyakan atas apa yang telah terjadi diantara kami selama tiga tahun lebih ini. Akhi pun tak bisa menjawab,dia pun mengakui ketidakwajaran yang terjadi lalu menyerahkan semua keputusan padaku.  Dan aku pun memutuskan untuk tidak mengotori persahabatan yang kita jalin selama ini. Aku memutuskan untuk menjaga jarak (baca: mengakhiri hubungan persahabatan atau apapun namanya ini). Dan kita menyelesaikan semuanya dengan sangat baik. Aku masih ingat kata-kata terakhirnya:

Jika keputusanmu adalah mengakhiri ini semua, maka itu artinya takdirku sudah dekat. (Akhi, ….Februari 2006)

Meski saat itu aku tidak tahu makna perkataannya tetapi aku menjadi paham saat delapan bulan kemudian dia mengirimkan sebuah undangan pernikahan. Iya…takdir yang dia maksud adalah pernikahan yang diselenggarakan melalui perjodohan di majelisnya.

Entah mengapa aku tak sanggup datang ke pernikahannya, pun saat putri kecilnya lahir setahun kemudian. Aku baru kembali menjalin komunikasi dengannya tahun 2008, dua tahun lebih setelah semua berakhir. Itupun karena dia yang mengawali melalui YM Chatting.

Dan kini hubungan kami sudah sangat baik. Tulus aku ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. Aku bahagia karena dia adalah sahabat sejatiku, sahabat yang memiliki senyum terindah yang pernah aku lihat. Senyuman Syurga aku menyebutnya.

Komentar bertahan »

Cinta Pertamaku….

Tuhan memberikan banyak cinta padaku

Cinta pada Orang Tua

Cinta pada Saudara

Cinta pada sesama

Tetapi aku masih mencari cinta yang lain

Untuk melengkapi separuh hati ini…

Dan kini aku sedang mensketsa sebuah siluet

Lalu aku bertanya pada Tuhan

Apakah itu cinta yang aku cari?

Bantu aku bertanya pada Tuhanmu…

(Dia, 17 Agustus 2003)

Itulah jalinan kalimat yang akan aku ingat seumur hidupku, meskipun dia sudah menjadi bagian dari masa laluku.

Pernahkah engkau wahai sahabat, merasa apa yang kamu impikan selama bertahun-tahun tiba-tiba saja ada di depan matamu?

Aku pernah.

Masa remaja yang aku jalani memang tidak seperti remaja pada umumnya. Aku tak pernah tertarik dengan yang namanya ”cinta monyet”. Aku terlalu disibukkan oleh kegiatan sekolah, belajar, berorganisasi hingga bersenang-senang dengan keluarga dan teman-temanku.

Namun aku tetap mempunyai sebuah khayalan, tentang sosok kekasih yang aku dambakan. Lengkap dari bagaimana kepribadiannya, berapa umurnya, bagaimana ciri fisik dan sikapnya. Dan itu terus aku jaga hingga bertahun-tahun lamanya.

Suatu hari di bulan Juni tahun 2003, ada sebuah SMS hadir di nomor AS-ku. Pada mulanya kuanggap dia orang iseng saja, namun percakapan diantara kami memang sangat menarik hati. Kita berbicara tentang banyak hal mulai dari hal-hal yang ringan, percakapan seputar kampus, permasalahan agama hingga segala seluk beluk kehidupan dari mata seorang filosof.

Dia adalah orang yang Cerdas. Lima tahun lebih tua dariku, tepat seperti yang aku bayangkan dari dulu. Kami satu fakultas namun dia sudah lulus sesaat ketika aku masuk kuliah. Dalam waktu yang singkat aku sudah menjadi pengagumnya. Apalagi pada akhirnya dia membuka topeng dirinya dan menunjukkan wujud aslinya.

Subhanallah….

Persis seperti dalam mimpi-mimpiku, wujud nyata dari khayalanku… mulai dari ciri fisiknya, penampilannya, kecerdasannya, pola pikirnya, caranya menghadapiku, perhatiannya. Aku hampir saja tidak bisa membedakan antara dunia imajinasiku dengan realita yang kulihat tepat di depan mata.

Maka bergulirlah waktu penuh ketakjuban. Euforia rasa yang memenuhi segenap jiwaku kubiarkan bergentayangan dari waktu ke waktu. Jiwaku dimabuk rasa, hatiku dipenuhi bunga-bunga.

Setiap kata darinya selalu aku catat dengan rapi di buku harianku. Pagi, siang, sore, malam, hingga pagi datang kembali aku selalu bersamanya dalam kata dan rasa. Hingga suatu hari… untaian kalimat yang kutulis di awal itu dia sampaikan. Hatiku tiba-tiba gelisah… Bantu aku bertanya pada Tuhanmu… kata-kata itu terngiang-ngiang terus dalam benakku.

Dan keesokan harinya, sesaat setelah aku bertanya pada Tuhanku melalui nyanyian syahdu di sepertiga malam. Kujawab rangkaian kalimat yang hingga saat ini masih menjadi kalimat terbaik yang pernah diberikan seseorang padaku itu dengan mantap :

Cinta sejati bukanlah sekedar sketsa ataupun siluet

Cinta sejati bukan sekedar permainan kata

Cinta sejati adalah sebuah proses menuju ketenangan hidup

Tuhanku menjawab… belum saatnya…

(aku, 18 Agustus 2003)

Lalu aku menangis, dan aku tahu aku telah kehilangan cinta pertamaku. Aku telah kehilangan impianku, kekasih imajinasiku. Tapi aku merasa bahwa tangan Tuhanku lah yang memintaku untuk menuliskan jawaban itu untuknya.

”Ada sesuatu yang masih harus kamu lewati sebelum kamu merasakan cinta sejati” Mungkin seperti itu bisikan kata Tuhanku yang kudengar samar-samar dibalik tidurku. Yah, aku punya prinsip untuk tidak bermain-main dengan hati saat aku belum siap untuk masuk ke jenjang pernikahan. Aku hanya ingin menjaga diriku hingga saatnya tiba kelak.

Setelah itu hubunganku melemah, semakin hari semakin lemah. Namun hingga kini pun aku masih mengikuti perkembangannya. Sesekali kami masih berkirim kabar, meskipun mungkin hanya dua-tiga bulan sekali.

Dia menjadi seorang pengajar sama sepertiku hanya saja beda kota. Aku pun ikut bahagia saat dia berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di benua Eropa.Terakhir aku sempat mendengar curhatnya saat dia patah hati karena seseorang dan aku sangat berusaha keras menghiburnya.

Hanya satu yang dia tidak tahu tentang aku… Dia tidak tahu bahwa dialah cinta pertamaku.

Komentar (2) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.