Atas desakan sang Pujangga Syurga, Milis perjodohan itu segera aku alihkan kepada seorang teman yang juga berikhtiar untuk mencari pasangan hidup. Dan memang aku merasa sudah tidak membutuhkan lagi.
Disaat aku sudah merasa tertekan oleh sikap Pujangga Syurga yang terlalu mengatur dan possesif. Aku menghibur diri dengan chatting melalui YM. Dan bertemulah aku dengan seseorang yang dulu pernah menyapaku melalui milis Perjodohan yang sama.
Seseorang yang sama sekali tidak aku kenal, bahkan tidak bisa aku bayangkan. Dia bekerja di luar negeri selama bertahun-tahun lamanya. Dan telah memutuskan untuk menetap disana entah sampai kapan. Hal itulah yang membuat aku mundur dari perkenalanku dengannya di awal dulu.
Namun disaat aku sudah tidak lagi berorientasi mencari pasangan hidup dan mulai menambah pertemanan dengan siapa saja, aku mulai merasakan ada sesuatu yang menyenangkan darinya. Sesuatu yang tidak aku temukan dari yang lainnya.
Aku menganggapnya sebagai seorang teman yang manis, menyenangkan dan unik. Tiba-tiba saja muncul sebuah kedekatan diantara kami. Hingga aku pun ingin menjadi mak comblang antara dirinya dan teman serumahku. Meski kemudian aku juga yang merasa bahwa mereka tidak akan cocok.
Sesaat setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Pujangga Syurga. Aku semakin dekat dengannya. Harus kuakui bahwa dialah yang membuat aku mampu dengan segera melupakan kesedihanku.
Tanpa sadar Kami pun pada akhirnya memiliki jadwal khusus setiap hari. Menceritakan tentang segala hal, bercerita tentang kegiatan hari ini, kejadian-kejadian lucu, menyenangkan hingga hal-hal yang menyedihkan.
Rasa itu muncul begitu saja diawal bulan Februari. Sesuatu yang selama ini aku takutkan tidak pernah muncul kembali. Yang ada hanyalah perasaan senang dan nyaman saat harus menghabiskan waktu bersamanya. Aku tidak merasa tertekan dan juga tak pernah merasa ingin mengubahnya. Aku hanya senang bersamanya.
Aku merasa kami sudah memiliki perasaan yang sama. Dan itu sudah cukup membuatku bahagia. Meskipun kenyataannya dia mempunyai sebuah permasalahan yang membuat kami tidak mungkin bersatu.
Yah….aku tahu kami tidak mungkin bersatu dan aku tak peduli akan hal itu. Aku menyayanginya tanpa syarat. Aku hanya mengharapkan kebahagiaan baginya. Meski memang jika harus jujur pasti aku kecewa. Tapi keinginan untuk melihatnya bahagia lebih kuat aku rasakan. Dan itu kusampaikan dihari ulang tahunnya.
Dulu,
sempat aku tak menyadari keberadaannya
menganggapnya seolah burung yang hinggap di dahan tuk sekedar beristirahat sebelum melanjutkan terbang
Dan entah sejak kapan.
Dia menemani sebagian waktuku…
Berjumpa dalam canda
Berkisah kesedihan
Bercerita tentang dunia
Berbicara masa depan
Saling berbagi doa dan harapan
Dia dengan kesederhanaannya dan aku dengan ketakutanku
Dia dengan kedewasaannya dan aku dengan keegoisanku
Dia dengan ketenangannya dan aku dengan ketidaksabaranku
Dia dengan kasih yang terpancar dan aku dengan hati yang terpendam
Ingin rasanya kembali ke masa itu,
Sebelum aku membuatnya marah, terluka atau bersedih
Dan tak kan kulakukan kebodohan dengan sikap semauku
Jika saja aku bisa menghapus semua kecewa yang ada di hatinya
Karena kini ku sadar bahwa dialah…
Teman yang sangat bisa dipercaya
Sahabat yang begitu kuhargai
Kakak yang bisa dihandalkan
Dan dialah Seseorang yang berarti bagiku…
Hari ini,
Sungguh aku mohon padaMU, Ya Allah….
Pertemukan dia dengan kebahagiaan sejati,
Kebahagiaan yang tak kan lekang oleh waktu
Kebahagiaan yang memberinya ketenangan
Kebahagiaan yang akan menghapus semua luka dimasa lalunya
Kebahagiaan yang akan menemani dimana pun dia berada
Kebahagiaan selamanya, dunia dan akherat….
(untuknya, 14 Februari 2009)
Diakhir maret, semua terjawab sudah. Saat dia memilih untuk tidak memilih siapapun termasuk diriku. Dan aku sudah mempersiapkan diri akan hal itu. Sedih? Tentu… untuknya air mata ini kupersembahkan. Bukan untuk membencinya tetapi untuk merelakannya menemukan kebahagiaan yang sejati. Aku tahu ini adalah jawaban Tuhan atas hubungan kami.
Aku tetap yakin bahwa dia adalah orang baik dan aku masih sangat mepercayainya, menghormatinya dan menyayanginya dalam bentuk yang berbeda tentu saja. Sebagai seseorang yang telah pernah mengisi kebahagiaanku.
Hingga di bulan April saat dia pulang ke tanah kelahirannya lalu berjanji akan mengunjungiku di Surabaya sebagai seorang teman tetapi kemudian dia gagalkan. Seketika itu aku kecewa… kekecewaan yang jauh lebih besar dibanding ketika dia menyampaikan bahwa dia tidak memilihku.
Seandainya saja dia tahu upayaku untuk menetralisir perasaanku, seandainya saja dia tahu berapa banyak airmata yang aku keluarkan untuknya, seandainya dia tahu aku telah mengorbankan banyak pendirian dan memberinya banyak pengertian. Aahhh… seandainya saja dia tahu betapa berantakan hidupku karena harus menghapus rasa yang ada untuknya…
Aku sudah melakukan semua itu. Dan aku sama sekali tak mau menyalahkan dia. Semua rasa yang kumiliki adalah kesalahanku. Dan aku pun tak berhak menuntut apapun darinya. Maka aku memutuskan untuk menghilangkannya dari sejarah kehidupanku. Namun aku amsih sedikit mengharapkan semua ini dapat diakhiri dengan indah, dengan pertemuan mesti hanya untuk yang terakhir kali.
Sedikit asaku akhirnya terjawab. Dia akhirnya bersedia menemuiku meski hanya sejenak. Sangat sebentar dibanding dengan kedekatan yang kita jalin selama ini. Tetapi aku sungguh bahagia bisa bertemu dengannya. Sesaat untuk terakhir kalinya aku melepaskan rasa. Membiarkan hatiku sedikit melayang, melepaskan logika untuk sementara. Dan rasa kepercayaanku padanya kembali tumbuh. Aku berdoa untuknya.
Namun aku tahu ada yang tidak beres. Dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu itu. Semua semakin diperkuat oleh pertanyaan-pertanyaan orang terdekatku yang juga telah aku kenalkan padanya.
Akhirnya aku menyerah… Aku terpaksa harus percaya bahwa aku tak berarti baginya.