“Lalu adek ada cerita apa?” Suara merdu Bunda di telpon terasa menusuk gendang telingaku.
Selama ini fokus pembicaraan kami terpusat pada masku, urusanku sedikit terabaikan. Tapi justru aku bersyukur oleh itu, karena aku tak perlu memikirkan bagaimana caranya membuat cerita yang bisa melukis senyum di wajah Bunda.
Lalu aku pun bercerita, tentang pekerjaanku, tentang rencana kuliahku, tentang kost2anku, tentang teman-temanku, tentang rencana-rencanku.
”Kayaknya masih ada yang belum diceritain dek…”
Aku tersenyum getir, untung saja Bunda tidak bisa melihat ekspresiku saat ini.
Rindu itu masih melekat Bunda
Bahkan seorang malaikat pencabut nyawa pun
belum tentu mampu mencabut dia dari hatiku
Tapi engkau tak perlu tahu itu…
”Satu per satu dulu Bunda, aku tak mikir masuk kuliah dulu. Abis itu baru deh tancap gas hehehehe….”
”Tapi masak ga ada cerita baru sama sekali tentang urusan itu”
”Ada Bunda, tenang saja… Masih dalam tahap Taaruf, nantilah kalo sudah ada perkembangan. Ini aku udah kudu mandi, udah siang” Hhhhh aku bersyukur diberi kemampuan lebih dalam berkilah dan mencari alasan
Dan berakhirlah dialogku dengan perempuan yang paling kucintai sepanjang hidupku itu.
Rindu itu masih melekat Bunda
Bahkan seorang malaikat pencabut nyawa pun
belum tentu mampu mencabut dia dari hatiku
Tapi engkau tak perlu tahu itu…
