Beberapa hari terakhir ini aku mendapat banyak kisah. Setelah liburan perpisahan dengan sahabat-sahabatku yang akan pergi jauh, aku pun bertemu kembali dengan seseorang yang pernah kusebut ”cinta pertamaku”. Dia kebetulan sedang ada tugas di Surabaya dan dua hari itu kami habiskan untuk berkisah tentang apa saja setelah tiga tahun tak berjumpa. Dan terakhir ada teman yang mengenalkanku pada seseorang dengan sebuah “tujuan”.
Tahukah engkau, aku memang senang dengan semua kisah diatas. Aku senang ketika sahabatku memohon aku menunggu kepulangannya dia dua tahun lagi, lalu bayanganmu hadir dan itu lebih menyenangkan bagiku.
Aku senang ketika aku dan seseorang yang kusebut ”cinta pertamaku” itu bernostalgia tentang banyak hal, berkisah tentang pengalaman dia merebut Master di Europe, lalu bayanganmu hadir dan itu lebih menyenangkan bagiku.
Aku senang saat ada seseorang yang baru hadir, memulai lagi sebuah perkenalan basa-basi lalu mengalir cerita demi cerita. Ternyata kami memiliki banyak kesamaan dan secara logika dia sangat sesuai dengan harapan, lalu bayanganmu hadir dan itu lebih menyenangkan bagiku.
Awalnya aku takut menulis tentangmu karena aku takut engkau membacanya seperti pada tulisanku sebelumnya. Tapi sekarang aku tak peduli, aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri. Ini yang aku rasakan, dan aku tak menutupinya sedikit pun.
Aku salah jika membencimu, karena engkau telah memberikan banyak moment indah dalam hidupku. Aku masih ingat, saat pertama kali aku bertemu denganmu. Aku senang saat kau menjemput di rumahku, sangat suka dan tak kan terlupakan. Aku senang saat malam pergantian tahun bisa menghabiskan waktu denganmu meski hanya melalui keyboard dan monitor. Aku senang bisa menuliskan perasaanku untuk kado ulang tahunmu. Aku senang engkau menemani hari-hariku selama beberapa waktu yang lalu. Aku senang bisa berbagi cerita apapun denganmu. Dan terakhir, aku senang bisa bertemu lagi denganmu, akhir april lalu. Meski seolah aku ingin melupakan moment itu, sejujurnya aku menikmati setiap detik perjumpaan terakhir denganmu. Aku masih sangat ingat betapa bahagianya diriku saat melihatmu turun dari travel di pagi buta itu. Bahagia yang tak terkira…
Aku ingin menganggap semua itu menjadi hal yang biasa. Aku menutupi semua moment indah itu dengan kisah-kisah yang membuatku meneteskan airmata. Aku terus mengingat bahwa aku bukanlah pilihanmu, dan aku harus sadar akan hal itu. Aku pun terus ingat bahwa engkau hampir saja tidak jadi menemuiku dengan alasan yang tidak bisa aku terima dengan akal sehat. Aku menangis saat teman kostku memperlihatkan fotomu bersama seorang gadis di hari wisudanya, juga foto lain dan comment-comment yang mendukung kedekatanmu dengan gadis itu.
Jiwaku berlari mencari makna ikhlas, berbagai buku tentang ilmu ikhlas aku beli. Berbagai kesibukan baru aku lakukan untuk melupakanmu. Dan ternyata kamu masih ada, tidak hilang sedikitpun. Ada sebuah pepatah mengatakan ”Lawan kata Cinta bukanlah Benci tetapi tidak peduli”. Sungguh aku tak mampu membencimu, tak akan pernah aku membenci seseorang yang telah melukiskan kenangan indah dalam hatiku. Pun aku tak akan mampu menjadi orang yang tidak peduli padamu. Aku akan selalu Peduli padamu, whatever will be…
Itulah jalan yang aku pilih
Aku tidak akan lagi menggunakan cara untuk membunuh perasaanku, aku tau waktu yang menyelesaikannya. Aku ingin menjalani semua apa adanya. Dan engkau pun tak perlu mencemaskan apapun. Aku tak akan mengharapkan apa-pun darimu ataupun dari yang lainnya. Semua harapanku telah aku titipkan pada-NYA.
Aku tak akan takut lagi menghadapi kenyataan yang ada. Aku tidak akan lagi menggunakan cara ABG dengan meremove-mu dari semua aplikasi internet maupun ponsel. Karena Tuhan tidak memberi tahu aku cara meremove-mu dari hidupku. Aku hanya ingin membebaskan hatiku yang selama ini tanpa aku sadari telah kuikat dan kupenjara dengan logika’ku.
Inilah cara yang aku pilih untuk menerima semua kemungkinan dan kesempatan yang Tuhan berikan untukku… Melepaskan kenangan bersamamu seperti ini, membuat perasaanku lega dan siap melanjutkan perjalanan hati dengan yang lain, meski butuh waktu untuk belajar.
Kebahagiaan akan bersama kita yang percaya akan Kebahagiaan itu sendiri. Terima kasih atas semuanya.